TEMBANG DALAM BUDAYA JAWA

Othak-athik Mathuk (OAM) dalam masyarakat Jawa unik. Keunikan tersebut berkaitan dengan mengolah kata. Kata diolah sedemikian rupa sehinga lucu, menarik dan penuh makna. apa itu OAM?

OAM adalah penggalan kata yang dipisah dan dirangkai kembali, sehingga kata tersebut memiliki persepsi dan konotasi. Tanpa penjelasan lebih lanjut, OAM akan dipersepsikan bahkan dikonotasikan orang pada pengertian yang kurang baik.

Contoh, dalam upacara adat temanten jawa, oleh Adicara (Adicara = bahasa jawa). Adicara adalah pemandu acara, agar serangkaian pelaksanaan upacara adat agar berlangsung lancar dan lengkap. Adicara disebut master of ceremony (MC).

Dekorasi kanan kiri jalan sepanjang jalan memasuki saat temu manten, hingga manten duduk di pelaminan terdapat simbol-simbol unik. Keunikan itu menutut seorang Adicara mampu menterjemahkan dalam bahasa simbol ke dalam bentuk OAM dan sampaikan dalam bahasa verbal kepada para tamu undangan.

OAM menjadi lucu, menarik perhatian dan penuh makna. Adicara akan membaca simbol tebu, di depan pintu masuk. Tebu, manteb-pe yen wis mlebu (bahasa jawa). Tentu saja, sebagai tamu undangan akan tersenyum, ketika mendengar dan menyaksikan. Tersenyum bahkan tertawa, karena kata-kata dan rangkaian tersebut memiliki konotasi seakan akan mengajak tamu berpikir porno. Akan tetapi setelah dijelaskan bahwa mantapnya rumah tangga pada kedua belah mempelai setelah memasuki perkawinan yang syah.

Suruh dalam bahasa Indonesia sirih. Upacara temanten dilengkapi dengan saling melempar suruh/sirih. Suruh, dalam OAM kesusu arep weruh (bahasa Jawa). Artinya ingin segera bertemu dan memandang sang calon istri. Dan masih banyak lagi yang lainnya. Melalui kreatifitas setiap orang dapat membuat OAM sendiri.

Tembang dalam OAM memiliki makna memohon. Tembang/nyanyian/kidung/sekar, dalam bahasa jawa tembang juga disebut sebagai sekar berarti bunga. Nyekar juga dapat diartikan ziarah. OAM tembang menjadi tembung  dan menjadi kidung. Kidung, adalah doa yang dilagukan dalam bentuk lagu, untuk memohon kepada Tuhan.

Dalam budaya Jawa tembang memiliki alur cerita kehidupan manusia. Alur tersebut, sejak manusia dalam kandungan, hingga maut menjemputnya. 1) Maskumambang, 2) Mijil, 3) Sinom, 4) Kinanthi, 5) Asmorodono, 6) Gambuh, 7) Dhandang gulo, 8) Durmo, 9) Pangkur, 10) Megatruh dan 11) Pucung. Berikut salah satu tembang atau kidung.

Pucung

Sumber bacaan: Prof. Dr. Suwardi Edrawara, M.Hum, Falsafah Hidup Jawa, Penerbit Cakrawala, Jl. Cempaka Putih No 8 Deresan CT X, Gejayan Yogyakarta 55283 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.